Thursday, 3 September 2009

Konflik Vs Manajemen Konflik

Kontroversi penuh intrik
Membuat masalah jadi pelik
Mereka yang berkonflik bagai itik
Mukanya masam semakin tak menarik

Canda gurau terasa tak menggelitik
Apapun terdengar serba sirik
Perasaan akhirnya hilang tercabik
Benar-benar seperti korban salah suntik

Huh! Sungguh berisik
Seperti bernyanyi dengan gitar rombeng di petik
Sungguh tak apik
Tak seperi hujan yang berintik

Mereka ingin penyelesaian penuh taktik
Untuk konflik yang tak pernah di ketik
Semua jawaban menarik
Tapi manajemen konfliklah yang paling antik

IBUKU DAN AKU, SI CALON BAYI DENGAN PITA MERAH

Ibu… apakah aku memang harus terlahir?
Dan apakah aku akan keluar dari ruang sempit ini dengan keikhlasanmu?
Ikhlas atas virus yang kubawa hingga mati nanti
Itukah alasan degupan jantung yang kudengar tiap hari
Jantung yang berdetak keras penuh kecemasan…
Penuh kekhawatiran…

Ibu… andaikan aku bisa menyusun skema hidupku sendiri
Mungkin kamu tak harus menitikkan airmata diatas dinding yang melindungiku
Mengusapnya perlahan agar aku tak ikut bersedih
Kamu juga tak perlu berharap virus itu menghinggapiku
Atau mengambil riwayat hidupku kelak
Tanganmu kembali menggapai puncak perutmu… mengusapnya sekali lagi

Ibu… waktuku untuk ada didekapmu tinggal sekejapan mata
Selalu merasakan betapa hangatnya kasihmu
Agar bisa mengganggu ketenanganmu dengan tangisku
Membelai wajahmu melalui tangan kecilku
Untuk bisa menatapmu lekat setiap aku bangun
Agar terbiasa mencium aroma tubuhmu saat aku tergendong Ayah

Ibu… jika aku keluar nanti, tolong lahirkan aku dengan selamat
Dengan segenap perjuanganmu
Dengan seluruh erangan yang menyakitkan itu
Agar aku bisa melihatmu, Ibu… mendengarkan kumandang adzan Ayah dipelukanmu
Serta biar dunia tahu, aku tak terdiskriminasi
Walau aku membawa virus mematikan, HIV AIDS

Tolonglah

Air itu jadi keruh kembali
Tak ada sepasang tangan yang tersenyum
Tolonglah perempuan ini
Tolong...!!!
Dia kebingungan tatkala satu-satunya kesempatan menguap ke udara
Dia keheranan saat tak ada lagi cara mencari tahu siapa sang hitam dan putih
Tolong dia...!!!

Sungguh aku mencoba sabar

Di ambang akhir permulaan...
Asaku menguap dalam seribu bunga api
Terangnya kuharap juga jadi milikku
Bisingnya semoga juga mencairkan kebekuan hatinya

Di batas cakrawala pagi...
Ratapku menerawang harapan yang benar-benar nyaris jadi impian
Dalam doa kuhaturkan keinginan terdalamku
Agar diizinkan untuk menyayanginya dalam arti sebenarnya, bukan yang lain

Di setiap renungan fajar...
Aku berkaca pada setiap cerita baru yang selalu kurangkum di memo mejaku
Pada nada yang selalu menemukan temponya di atas piano
Dan aku mendapati cerita baru dirinya dalam nada hati orang-orang yang peduli

Sungguh aku mencoba sabar...
Membiarkan nadi mengalirkan darahnya untuk tetap hidup demi kehidupanku

Sungguh aku mencoba sabar...
Menunggu fakta yang terbungkus rapi dalam hatinya

Sungguh aku mencoba sabar
Menahan perih saat pintu yang bertuliskan belahan jiwa dihatinya tertutup

Sungguh aku mencoba sabar
Menemukan kunci maaf yang bisa membuka pintu hatinya

Sungguh aku mencoba sabar...
Seperti yang dia lakukan padaku dahulu ketika tahun masih terlihat muda

Sungguh aku mencoba sabar...
Demi dia yang rela memberikan sebagian waktu hidupnya untukku sebagai sebuah kesabaran hidup yang perih, yang mengharuskan dia menghentikan nadinya, yang mengharuskan dia menipu hatinya, yang mengharuskan dia menutup pintu hati dan membuang kunci maaf yang harus aku temukan sekarang agar dia bisa kembali menyayangiku dalam arti sebenarnya...

Maaf

Maaf jika aku selama ini hiraukanmu
Jika aku menyakitimu
Bukan karena aku tidak peduli
Hanya saja aku tidak mau bersamamu dengan cara yang kemarin

Begitu besar rasamu padaku
Tapi aku belum bisa membalas apapun
Aku tak punya sayang sebesar rasa sayangmu padaku
Aku bahkan tak mengenal sosokmu sangat

Kini ketika waktu dan takdir menyapa kembali
Aku ingin tahu apa yang tak pernah kuketahui tentangmu
Aku ingin menyembuhkan luka yang pernah kubuat dahulu
Aku ingin tahu sebesar apa rasa sayangmu padaku

Dan saat kesempatan itu benar terbuka selebar dunia
Aku mencoba berjalan dibelakang mengikutimu
Aku nyaris saja menangis mengetahui besarnya sayangmu padaku
Walaupun aku pernah menyakitimu kau tetap berdiri teguh menantiku

Setiap detik bersamamu
Setiap itu pula aku merasa teristimewakan
Tapi aku kadung bingung ketika keraguanmu mendera
Kau menghindar menghilang tak tentu arah

Aku kesepian dalam arti sebenarnya
Aku hampa tatkala tak ada yang menyapa setiap hariku
Inikah rasanya sayang pada seseorang
Kenapa begitu sakit jika kehilangan?

Bolehkah aku menangis dipunggungmu seraya mengatakan aku mulai menyayangimu?
Bolehkah aku menatap matamu selama yang aku mau?
Bolehkah aku menggenggam tanganmu agar aku selalu merasa aman?
Aku tidak tahu apakah aku diperbolehkan?

Sang Penanti

Wajah kuyu pucat pasi pun bisa dia hindari...
Hidupnya sudah tergelayuti beban yang mengakar
Apakah ada rahasia di ujung langit sana
Ketika dia sedang menyusuri lorong gelap yang tak terbantahkan

Lampu penerangan di pinggir jalan seperti menyorotinya
Tapi mata itu tak tampak berkaca
Baginya lampu itu hanya sebagai petunjuk ketika malam hendak datang
Tapi baginya cahaya itu belum hinggap

Seuntai doa dia lantunkan setiap hari...
Hari pertama dia meminta sebungkus nasi untuk kenyangkan perutnya
Di hari kedua dia meminta selembar selimut yang bisa menghangatkan malam-malamnya
Hari ketiga dia meminta agar diberikan seorang teman untuknya berbagi cerita

Akan tetapi permintaan lewa doa itu tak kunjung menyambanginya
Dia terduduk lesu mengingat mengapa doanya tak terwujudkan
Lalu sekelibat cahaya menerpa wajahnya
Sesosok makhluk indah didepan sana dan sedang tersenyum padanya

“Siapa engkau?”, sapa sang penanti doa
“Engkau mungkin lupa wahai sang penanti”, balas sosok indah itu
“Aku tak punya teman, bagaimana aku mengenalmu”, sang penanti memandang dengan seribu kerutan yang terukir jelas di keningnya
“Kita pernah bertemu bahkan jauh sebelum engkau menyadari semua ini”, balas sosok indah itu lagi, kembali dengan seuntai senyum

“Ikutlah denganku wahai sang penanti, waktumu sudah cukup disini” sosok indah itu mengulurkan tangannya
“Tapi maafkan aku wahai engkau yang begitu teramat indah, aku sedang menunggu doaku agar aku diberikan makanan, selimut, dan teman bicara” sang penanti mengatupkan kedua tangannya dan mengucapkan maaf yang tiada terkira atas kelancangannya
“Wahai penanti, ikutlah denganku”
“Tapi...........” tolaknya halus
“Wahai penanti ikutlah denganku”
“......” sang penanti terdiam bingung
“Wahai penanti ikutlah denganku, kau bisa langsung meminta semua itu pada-Nya”
“Apakah itu benar? Benarkan tak perlu menunggu lagi” binar matanya memancar hebat.
“Percayalah.”

Diikutinya sosok indah itu, dan sang penanti menutup matanya lega
Inilah saatnya aku pergi
Tak ada lagi beban, duka, dan sepi dalam hari-hariku
Aku kini sudah bisa mendapatkan lebih dari sebungkus nasi, lebih dari selembar selimut, dan ribuan teman yang selalu menemaniku